Haidar: Di Lingkup Muhammadiyah Harus Diciptakan Kondisi Perokok adalah Orang Asing

Kompas.com - 18/11/2009, 19:49 WIB

YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Segenap instansi yang bernaung di bawah Muhammadiyah diharapkan makin tegas menyuarakan kampanye melawan rokok. Semua orang di Muhammadiyah, termasuk pelajar dan mahasiswa, harus mulai menciptakan kondisi agar perokok adalah orang asing. Teguran bagi perokok juga tak perlu lagi sungkan-sungkan dilakukan.

Hal itu dikatakan Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah Haidar Nashir seusai meresmikan gedung MTs Muallimin Muhammadiyah, Rabu (18/11). Menurut dia, perang terhadap rokok tidak berlebihan karena merokok jelas akan membuat orang sakit.

"Harus ada budaya baru yang membuat perokok menjadi orang asing di lingkungan. Memang, menegur perokok akan sulit karena perokok sudah punya perilaku akut. Perilaku yang seenak diri merokok. Perokok tidak sadar atau tidak mau tahu dengan kondisi orang lain," katanya.

Sayangnya, kalangan nonperokok terhanyut dalam kondisi sehingga malah sungkan menegur perokok. Inilah yang secara tegas disebut Haidar sebagai kondisi yang mesti dibalik. Perokoklah yang mestinya sungkan jika di sekitarnya adalah komunitas bukan perokok.

Ia melanjutkan, kecil kemungkinan perokok akan minta izin ke orang di sekitarnya jika hendak merokok. Karena itu, begitu ada orang hendak merokok, yang lain mesti proaktif menegur. Tak perlu sungkan karena kaum nonperokok berhak menghirup udara bersih. 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau